BDGVIBES- Bandung selalu punya cara menghadirkan pengalaman kuliner yang unik. Kini, sebuah destinasi makan baru hadir dengan konsep yang tak biasa. Ambara Biru, rumah makan yang berada di Jalan Panaitan No.33, menawarkan sensasi bersantap dengan perpaduan cita rasa khas Sunda dan Brasil.
Restoran yang mulai beroperasi sejak Desember 2025 ini mengusung konsep Homemade Fusion Food, yakni menghadirkan sajian rumahan khas Sunda dengan sentuhan kuliner dari Brasil. Perpaduan dua budaya kuliner tersebut menghadirkan pengalaman rasa yang tetap akrab di lidah, namun dengan sentuhan baru yang menarik bagi para pecinta makanan.
Owner Ambara Biru, Douglas Yamashita, mengatakan restoran tersebut menghadirkan berbagai pilihan menu yang bisa dinikmati pengunjung, termasuk paket spesial untuk berbuka puasa selama Ramadan.
“Menu paket buka puasa ini kami siapkan dalam beberapa pilihan, mulai dari paket satu, dua, tiga, dan paket lainnya. Konsepnya cocok untuk keluarga maupun rombongan yang ingin berbuka puasa bersama,” ujar Douglas Yamashita di Bandung, Selasa (10/3/2026).
Salah satu menu yang banyak diminati adalah paket Ramadan nasi liwet. Hidangan ini disajikan lengkap dengan ayam bakakak, perkedel, sambal, lalapan, tumis kangkung, serta minuman segar seperti jus stroberi yang memberikan sensasi menyegarkan setelah seharian berpuasa.
Menurut Douglas, ide menghadirkan konsep fusion ini lahir dari keinginannya mempertemukan dua budaya kuliner yang memiliki karakter berbeda namun tetap bisa berpadu secara harmonis.
Ia menjelaskan, dalam budaya kuliner Brasil, nasi juga menjadi bagian penting dalam setiap hidangan—mirip dengan kebiasaan makan masyarakat Indonesia. Bedanya, nasi biasanya disajikan bersama kuah kacang merah kental yang dikenal sebagai feijão.
“Di Brasil hampir setiap hidangan juga disajikan dengan nasi. Yang membedakan adalah biasanya mereka menambahkan kuah kacang merah kental yang disebut feijão sebagai pendampingnya,” jelasnya.
Selain sajian khas Sunda seperti ayam bakar dan pepes, Ambara Biru juga menghadirkan hidangan populer dari Brasil. Salah satu yang menjadi favorit adalah picanha, steak khas Brasil yang terkenal dengan potongan daging tebal dan teksturnya yang juicy.
Menu ini biasanya disajikan dengan nasi serta kuah kacang merah khas Brasil sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih yang khas.
“Picanha menjadi salah satu menu favorit kami, terutama untuk berbuka puasa. Namun untuk paket berbuka puasa, khususnya bagi pengunjung yang datang secara berkelompok, menu juga bisa disesuaikan atau dinegosiasikan sesuai kebutuhan,” katanya.
Tak hanya hidangan utama, Ambara Biru juga menghadirkan dessert khas Brasil bernama brigadeiro. Kudapan manis berbentuk bola cokelat ini merupakan salah satu makanan penutup populer yang sering hadir dalam berbagai perayaan di Brasil.
Beberapa menu fusion unik juga bisa dicoba pengunjung, seperti nasi goreng Brasil yang dimasak dengan teknik berbeda hingga moqueca de peixe, hidangan ikan berkuah kental dengan perpaduan bumbu paprika dan santan yang menghadirkan rasa khas Amerika Latin.
Untuk melengkapi pengalaman bersantap, Ambara Biru juga menyajikan minuman khas Brasil seperti açaí dan guaraná blend, yang dikenal kaya antioksidan serta populer sebagai minuman sehat di negara tersebut.
Mengusung tagline “Sunda Soul, Brazilian Heart”, Ambara Biru ingin menghadirkan pengalaman kuliner yang tidak sekadar memanjakan lidah, tetapi juga membawa cerita tentang pertemuan dua budaya melalui makanan.
“Ambara Biru merupakan satu-satunya restoran yang memperkenalkan perpaduan masakan Brasil dan Sunda kepada masyarakat Indonesia. Kami ingin menghadirkan dua budaya kuliner dalam satu tempat,” tambah Douglas.
Selama bulan Ramadan, Ambara Biru juga menghadirkan promo paket buka puasa bersama mulai dari Rp55.000 per orang yang sudah termasuk minuman. Penawaran ini diharapkan menjadi pilihan menarik bagi keluarga, komunitas, maupun rekan kerja yang ingin menikmati momen berbuka puasa dengan suasana yang berbeda.
Lewat konsep kuliner lintas budaya ini, Ambara Biru membuktikan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga dapat menjadi jembatan yang mempertemukan tradisi dari berbagai belahan dunia dalam satu meja makan. (*)
