Kalender Event

No Events

GREY Genap 3 Tahun, Perkenalkan Grey Hair and Nail Artistry serta Grey Cube sebagai Ruang Seni Baru

BDGVIBES- Bandung selalu punya cara unik merayakan kreativitas. Kali ini datang dari GREY, ruang seni rupa kontemporer yang genap berusia tiga tahun. Bertepatan dengan momentum tersebut, GREY meresmikan GREY Hair and Nail Artistry, sebuah salon berkonsep galeri seni yang berlokasi di Jl. Cilaki No. 28, Cihapit, Bandung Wetan. Bukan sekadar tempat merawat diri, salon ini menghadirkan pengalaman baru: menikmati karya seni langsung di tengah aktivitas keseharian.

Mengusung konsep yang diklaim sebagai yang pertama di Indonesia, GREY Hair and Nail Artistry memadukan layanan kecantikan dengan ruang pamer seni rupa. Dinding-dinding salon diisi karya seni terkurasi, menjadikan aktivitas potong rambut atau perawatan kuku sebagai pengalaman visual sekaligus reflektif. Seni tidak lagi eksklusif, tapi hadir dekat, akrab, dan menyatu dengan gaya hidup urban.

Inisiatif ini menjadi bagian dari ekosistem GREY yang lebih luas. Digagas oleh Grace Christianti, Elia Yoesman, dan Jennifer Sugianto, GREY sejak awal memang membawa visi menghadirkan seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Lewat salon ini, batas antara ruang seni dan ruang publik semakin cair.

Pada tahun pertamanya, GREY Hair and Nail Artistry menampilkan karya-karya dengan visualisasi monokrom hitam–putih. Pilihan palet ini bukan tanpa alasan. Hitam dan putih memberi ruang bagi mata dan pikiran untuk berhenti sejenak, menghadirkan jeda di tengah ritme kota yang cepat. Kehadiran karya di ruang keseharian ini membuat seni tak lagi terasa jauh, melainkan hadir sebagai bagian dari pengalaman hidup.

“Kami ingin menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bagian dari cara kita menjalani hari. Di GREY Hair and Nail Artistry, setiap karya hadir di tengah aktivitas sehari-hari, sehingga pengunjung bisa merasakan seni secara langsung — sebagai teman, inspirasi, atau momen refleksi dalam rutinitas mereka,” ujar Owner sekaligus Founder GREY Hair and Nail Artistry, Grace Christianti, Selasa (3/2/2026)

Tak hanya untuk diapresiasi, karya-karya yang dipamerkan juga tersedia untuk dijual. Dengan begitu, salon ini turut membuka jalur distribusi karya sekaligus memperluas akses pasar bagi seniman. Sebuah pendekatan yang menempatkan seni bukan hanya sebagai elemen estetika, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Ekosistem GREY yang Terus Bertumbuh

Langkah GREY tak berhenti di salon. Di momen ulang tahun ke-3 ini, GREY juga memperkenalkan GREY CUBE, ruang baru yang menjadi simpul tambahan dalam ekosistem seni rupa kontemporer Bandung. Berlokasi di Jl. Dago No. 169 Lantai 3, GREY CUBE dirancang dengan fokus kuratorial yang lebih terarah, tanpa memutus kesinambungan dengan ruang-ruang GREY lainnya.

Pada pembukaannya, GREY CUBE menampilkan karya dari Aryo Saloko, Eldwin Pradipta, Heri Dono, Ikie Morphacio, Joko Avianto, Mujahidin Nurrahman, RE Hartanto, dan Toni Antonius. Setiap karya hadir dengan karakter masing-masing, tanpa upaya penyeragaman gaya, mencerminkan keberagaman praktik seni rupa kontemporer Indonesia.

Peresmian GREY CUBE turut dihadiri perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Kabid Ekraf Disbudpar Kota Bandung, Faisal Tachir, menyebut kehadiran ruang ini sebagai potensi barometer baru bagi subsektor seni rupa di Bandung.

“Mudah-mudahan ini menjadi pemicu bagi kita semua untuk aktif mengembangkan 17 subsektor ekonomi kreatif, khususnya seni rupa yang diwadahi oleh galeri seni di Kota Bandung,” ucapnya.

Grey Award 2026, Monokrom sebagai Sikap Artistik

Masih dalam rangkaian penguatan ekosistem, GREY juga kembali menggelar Grey Award 2026, yang memasuki edisi kedua. Mengusung tema “Monochrome as Manifesto”, ajang ini menempatkan monokrom bukan sekadar pendekatan visual, melainkan sikap konseptual.

General Manager Grey Art Gallery Angga A. Atmadilaga menjelaskan bahwa pembatasan hitam–putih justru menjadi medan eksplorasi artistik.

“Kerangka karya dibatasi pada monokromatik hitam–putih—spektrum hitam, putih, dan gradasi abu-abu—sebagai pilihan artistik dan sikap kuratorial. Pembatasan ini tidak dimaksudkan sebagai pengekangan, melainkan sebagai medan yang menuntut ketajaman berpikir, ketegasan artikulasi visual, serta kepekaan terhadap struktur visual, cahaya, bayangan, tekstur, dan materialitas karya,” ujarnya.

Antusiasme seniman pun tinggi. Sebanyak 931 karya dari 710 seniman dikirimkan dan diseleksi oleh Wiyu Wahono, Heri Pemad, dan Angga Aditya. Dari proses tersebut, terpilih 65 karya dari 60 seniman untuk dipamerkan, sebelum akhirnya disaring menjadi 10 finalis dan 3 penerima Grey Award 2026.

Pameran Grey Award 2026 dapat dikunjungi di Grey Art Gallery, Jl. Braga No. 47, Bandung, setiap hari. Lewat GREY Hair and Nail Artistry, GREY CUBE, dan Grey Award 2026, GREY menegaskan posisinya bukan hanya sebagai galeri, tetapi sebagai ruang hidup tempat seni, gaya hidup, dan ekonomi kreatif saling berkelindan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *