Kalender Event

No Events

Peletakan Batu Pertama Dapur Santri Nusantara Ponpes Attarbiyatul Islamiyah Resmi Dimulai

BDGVIBES- Sebuah langkah kecil dengan cita-cita besar dimulai dari sudut Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Halaman Pesantren Attarbiyatul Islamiyah menjadi saksi lahirnya sebuah ikhtiar sosial yang sarat makna: peletakan batu pertama Dapur Santri Nusantara (DSN), Sabtu (24/1/2026), fasilitas yang disiapkan untuk menopang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) gagasan Presiden RI Prabowo Subianto.

Bukan sekadar seremoni pembangunan, momen ini menandai hadirnya harapan baru bagi ribuan penerima manfaat—mulai dari santri, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak-anak jalanan. Dari dapur pesantren, distribusi gizi diproyeksikan menyentuh lapisan masyarakat yang selama ini paling membutuhkan perhatian.

Peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Ketua Yayasan Pendidikan Attarbiyatul Islamiyah, Kiayi Furqon Nurhakim, S.Pd., M.MPd., disaksikan jajaran tokoh lintas sektor. Hadir di antaranya Direktur Kopsantara Jawa Barat yang diwakili Ketua Harian Ustadz Nanang, Ketua Brigade 08 Jawa Barat Didin Karyadi Ghalib, serta Kepala Desa Pinggirsari Wawan Somantri, S.IP. Kolaborasi pesantren, pemerintah desa, dan jejaring nasional ini menjadi sinyal kuat bahwa program strategis negara bisa tumbuh dari akar rumput.

Dalam sambutannya, Kiayi Furqon menegaskan bahwa DSN bukan sekadar bangunan fisik, melainkan wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial pesantren terhadap lingkungan sekitar.

“Alhamdulillah, dengan peletakan batu pertama ini kami berharap pembangunan Dapur Santri Nusantara segera terwujud dan secepatnya memberi manfaat bagi santri, lansia, ibu hamil, serta anak-anak jalanan. Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto atas terealisasinya program ini, serta seluruh pihak yang telah mendukung,” ujar Kiayi Furqon.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa sekitar 3.200 porsi makanan bergizi telah diproyeksikan untuk diproduksi dan disalurkan setiap hari. Target operasional pun terbilang ambisius—Maret 2026, hanya dua bulan setelah pembangunan dimulai.

“Insya Allah DSN ini akan beroperasi pada bulan Maret. Dengan dukungan semua pihak, kami optimistis program ini segera berjalan dan memberi manfaat luas,” tambahnya.

Dari sisi pengelolaan, Ketua Harian Kopsantara Jawa Barat, Ustadz Nanang, menegaskan bahwa pembangunan DSN bersifat hibah, dengan pengelolaan sepenuhnya dipercayakan kepada sumber daya manusia pesantren. Skema ini merupakan hasil kesepakatan dengan Badan Gizi Nasional demi menjaga keberlanjutan dan ketepatan sasaran.

“Pengelolaan Dapur Santri Nusantara tidak boleh diserahkan ke pihak lain. Ini harus dikelola langsung oleh SDM pesantren agar manfaatnya tepat sasaran dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti peran penting Pemerintah Desa Pinggirsari dalam proses pelaporan dan pengawasan program, yang menjadi penghubung antara pelaksana di lapangan dengan pemerintah pusat.

Kebanggaan serupa diungkapkan Kepala Desa Pinggirsari, Wawan Somantri, S.IP. Menurutnya, kepercayaan menjadikan desanya sebagai lokasi DSN bukan hal yang datang setiap saat.

“Ini kebanggaan besar bagi kami. Tidak semua desa mendapatkan restu pembangunan Dapur Santri Nusantara. Kehadiran DSN sangat sejalan dengan visi misi desa serta amanat Undang-Undang Desa Nomor 3 Tahun 2014, yakni mensejahterakan masyarakat,” ungkap Wawan.

Ia berharap, program makan bergizi gratis benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan dan menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.

Dukungan penuh juga datang dari Ketua Brigade 08 Jawa Barat, Didin Karyadi Ghalib, yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut mengawal dan menyukseskan program unggulan Presiden.

“Mari kita dukung penuh program Presiden. Dapur Santri Nusantara ini tidak hanya memberi makan bergizi gratis, tapi juga menggerakkan ekonomi desa. Santri, ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak jalanan akan menjadi penerima manfaat utama,” tegas Didin.

Lebih dari sekadar dapur produksi makanan, Dapur Santri Nusantara di Pesantren Attarbiyatul Islamiyah diproyeksikan menjadi pusat pemberdayaan, simbol gotong royong, sekaligus bukti nyata kehadiran negara hingga ke pelosok. Di tengah tantangan gizi dan ketimpangan sosial, langkah dari Desa Pinggirsari ini diharapkan menjadi inspirasi nasional—bahwa perubahan besar bisa dimulai dari dapur pesantren, demi masa depan Indonesia yang lebih sehat dan berdaya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *