Kalender Event

No Events

“Monster Pabrik Rambut” Jadi Film Horor Paling Relate Buat Generasi Kerja Keras

BDGVIBES— Bandung kembali jadi kota yang membuktikan besarnya antusiasme penonton terhadap film horor dengan pendekatan yang berbeda. Bukan soal rumah angker atau teror hantu klasik, kali ini publik dibuat penasaran dengan horor yang terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni kelelahan kerja dan kurang tidur.

Film Monster Pabrik Rambut karya sutradara Edwin sukses mencuri perhatian saat menggelar special screening di Braga XXI, Senin (25/5/2026). Tiket pemutaran bahkan langsung sold out dalam waktu singkat, menunjukkan rasa penasaran publik terhadap film produksi Palari Films tersebut semakin besar menjelang penayangan resminya pada 4 Juni mendatang.

Buat banyak orang, terutama generasi pekerja saat ini, premis yang diangkat film ini terasa sangat dekat. Lembur tanpa henti, tekanan kerja, tubuh yang dipaksa terus produktif, hingga kurang tidur menjadi realita yang sehari-hari dialami banyak orang dan semuanya dibungkus dalam balutan horor psikologis yang mencekam.

Bandung sendiri menjadi kota ketiga setelah Yogyakarta dan Jakarta yang disambangi dalam rangkaian special screening film ini. Sebelumnya, Monster Pabrik Rambut juga sudah lebih dulu mencuri perhatian di panggung internasional lewat penayangan perdananya di Berlin International Film Festival sebelum melanjutkan partisipasi di Hong Kong International Film Festival.

Yang membuat film ini menarik bukan hanya atmosfer horornya, tetapi bagaimana rasa takut dibangun dari situasi yang realistis. Penonton tidak hanya diajak kaget lewat jumpscare, tetapi ikut masuk ke tekanan mental dan fisik para pekerja yang terus dipaksa bertahan.

Dalam sesi diskusi usai pemutaran film, Rachel Amanda menyebut bahwa isu yang diangkat dalam film sangat dekat dengan kehidupan para pekerja masa kini.

“Relatability film ini bagi kalangan pekerja sangat kuat, mulai dari isu kelelahan kronis akibat lembur hingga masalah kurang tidur. Hal ini relevan bagi buruh pabrik maupun karyawan kantor. Saya berharap karya ini mampu menginisiasi dialog mengenai urgensi lingkungan kerja yang lebih sehat,” ungkap Rachel Amanda, Senin (25/5/2026).

Hal serupa juga disampaikan Lutesha yang menilai kondisi overwork dalam film bukan sesuatu yang asing di Indonesia.

“Sangat memprihatinkan melihat bagaimana keterbatasan pilihan sering kali memaksa seseorang terperangkap dalam pekerjaan yang mengancam kesehatan. Situasi itulah yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat kita,” ujarnya.

Sementara itu, Iqbaal Ramadhan yang juga terlibat sebagai produser eksekutif mengatakan Monster Pabrik Rambut hadir dengan nuansa horor retro yang cukup berbeda dibanding film horor modern saat ini.

“Sumber ketakutan dalam film ini berakar pada atmosfer pabrik dan kehadiran monster di dalam ceritanya. Penggunaan practical effect untuk menghidupkan sosok monster memberikan pengalaman unik bagi generasi Z seperti saya, karena prosesnya mengingatkan pada estetika produksi film horor era 80-an dan 90-an,” ujar Iqbaal Ramadhan.

Menurutnya, pendekatan realistis tersebut membuat penonton seperti ikut terjebak di dalam lingkungan pabrik yang melelahkan dan mencekam, tanpa harus terlalu mengandalkan sosok setan atau kejutan berlebihan.

Secara cerita, film ini mengikuti perjalanan Putri yang diperankan Rachel Amanda dan Ida yang dimainkan Lutesha. Keduanya mencoba mengungkap misteri kematian sang ibu di pabrik rambut PT Raga Abadi — tempat eksploitasi kerja ekstrem menjadi bagian dari rutinitas harian para pekerja.

Ketegangan mulai muncul ketika mereka menemukan keterkaitan antara kematian sang ibu dengan sosok misterius yang hadir akibat tubuh manusia yang terus dipaksa bekerja tanpa istirahat.

Dalam sinopsisnya, Putri kehilangan ibunya setelah bekerja siang malam tanpa tidur selama beberapa hari. Menurut Maryati yang diperankan Didik Nini Thowok, pemilik pabrik, sang ibu meninggal karena bunuh diri. Namun Ida percaya ada sesuatu yang jauh lebih menyeramkan: ibunya meninggal akibat kesurupan.

Demi membuktikan hal tersebut, Ida sengaja memaksa dirinya lembur dan tidak tidur berhari-hari untuk melihat langsung sosok hitam yang diyakini merebut tubuh ibunya. Di tengah situasi itu, Bona yang diperankan Iqbaal Ramadhan justru menjadi target ancaman berikutnya karena memiliki kemampuan meregenerasi bagian tubuhnya.

Perlahan, film ini bukan cuma bicara tentang monster, tetapi juga tentang tubuh manusia yang dipaksa terus bekerja sampai kehilangan batas antara realita dan teror.

Dengan pendekatan cerita yang dekat dengan kehidupan urban, visual horor retro, serta isu sosial yang relevan dengan generasi pekerja saat ini, Monster Pabrik Rambut berpotensi jadi salah satu film horor Indonesia paling dibicarakan tahun ini — terutama di kalangan penonton muda yang merasa hidupnya tidak jauh dari siklus overwork dan kurang tidur. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *