Kalender Event

No Events

Monokrom Jadi Statement: Ini Dia Para Pemenang Grey Award 2026 yang Wajib Kamu Intip!

BDGVIBES- Bandung selalu punya cara menarik untuk merayakan kreativitas. Kali ini, lewat gelaran Grey Award 2026, dunia seni rupa kontemporer kembali diramaikan dengan eksplorasi visual yang nggak biasa—hitam, putih, dan abu-abu, tapi penuh makna.

Berlokasi di Grey Art Gallery, ajang ini resmi mengumumkan para pemenang dalam pameran bertajuk “Monochrome as Manifesto”. Tahun kedua penyelenggaraannya ini berhasil mencuri perhatian, bukan cuma dari segi konsep, tapi juga dari jumlah partisipan yang membludak.

Sebanyak 710 seniman dengan total 931 karya ikut serta dalam proses open call dari berbagai daerah di Indonesia. Dari ratusan karya tersebut, kurasi ketat dilakukan oleh dewan juri yang terdiri dari kolektor seni Wiyu Wahono, Heri Pemad, dan Angga Aditya.

Setelah melalui seleksi berlapis—mulai dari kurasi hingga wawancara—terpilih 10 finalis terbaik, sebelum akhirnya mengerucut menjadi para pemenang utama.

✨ Ini dia para pemenangnya:

🏆 GREY AWARD — Fatih Jagad Raya
Judul Karya: Dalam Sunyi, Rakyat Mengingat, 2025

🥈 BLACK AWARD — M. Aidi Yupri
Judul Karya: Layar Berdayun, 2025

🥉 WHITE AWARD — Shelvira Alyya
Judul Karya: Yang Dilihat Nantinya, 2025

🏅 GALLERIST & COLLECTORS CHOICE AWARD — Jimbo
Judul Karya: Bioluminesensi, 2025

🏅 PEOPLE’S CHOICE AWARD — Faisol Nurrohman
Judul Karya: Resonansi Dua Realitas, 2025

Lebih dari sekadar kompetisi, Grey Award 2026 juga jadi ruang penting bagi regenerasi seniman. Para finalis mendapat kesempatan untuk memperkenalkan karya mereka ke publik yang lebih luas—mulai dari kolektor, kurator, hingga institusi seni.

Menariknya lagi, tahun ini Grey Award menggandeng ArtMoments Jakarta sebagai strategic partner. Kolaborasi ini membuka peluang bagi karya finalis untuk tampil di panggung art fair, memperluas eksposur mereka ke level yang lebih tinggi.

Menurut Wiyu Wahono, kompetisi seperti ini punya peran besar dalam perjalanan seorang seniman.

“Ajang seperti Grey Award penting sebagai pintu bagi seniman untuk keluar dari kerumunan dan mendapatkan visibilitas di medan seni yang lebih luas,” tuturnya.

Tema “Monochrome as Manifesto” sendiri bukan sekadar soal estetika. Para seniman ditantang untuk berkarya hanya dengan spektrum hitam, putih, dan abu-abu—sebuah batasan yang justru membuka ruang eksplorasi lebih dalam.

“Monokrom kami tempatkan sebagai medan uji, bagaimana visual hitam putih bisa menjadi sikap, pendirian, sekaligus statement dalam berkarya. Ajang ini sebagai “batu lompatan” bagi seniman, terutama mereka yang baru lulus dan belum memiliki nama di pasar seni. Bisa dibilang jarang ya award tentang seni. Buat saya, ini satu batu lompatan. Terutama untuk seniman muda yang baru lulus untuk mencapai publik seni dan para apresiasi,” terangnya.

Di balik kemegahan acara, ada komitmen besar dari penyelenggara. Wiyu juga menyoroti bahwa penyelenggaraan art award bukan hal mudah, bahkan dengan hadiah utama mencapai Rp100 juta.

“Kondisi tersebut, menjadi salah satu alasan mengapa ajang penghargaan seni masih jarang di Indonesia, bahkan termasuk dari pemerintah, hanya ada satu penghargaan seni rupa, yakni Basuki Abdullah Art Award. Sementara dari sektor swasta, kontribusi juga masih terbatas. Padahal, momentum perkembangan seni rupa Indonesia saat ini sedang berada di titik strategis,” jelasnya.

Buat kamu yang ingin merasakan langsung atmosfernya, pameran Grey Award 2026 masih bisa dikunjungi. Cocok banget jadi agenda weekend escape sambil menikmati sisi lain Bandung yang artsy dan inspiratif.

🕙 Jam kunjung:

Weekday: 10.00–20.00 WIB

Weekend: 10.00–22.00 WIB

Siap-siap, siapa tahu kamu justru menemukan karya favoritmu di tengah “kesunyian” monokrom yang ternyata penuh cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *