bdgvibes– Bandung memang identik dengan kuliner Sunda yang kaya rasa dan tradisi. Namun di tengah dominasi tersebut, sebuah restoran pendatang baru berani tampil berbeda. Saji Marem hadir membawa angin segar dengan mengusung konsep masakan rumahan Jawa otentik, lengkap dengan cita rasa khas Jawa Tengah dan Yogyakarta yang akrab di lidah, sekaligus sarat nostalgia.
Berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda No.365, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Saji Marem tak sekadar menjual makanan, tetapi juga menghadirkan pengalaman bersantap yang terasa dekat dan personal. Restoran ini menyasar siapa saja—mulai dari perantau yang rindu masakan kampung halaman, hingga warga Bandung yang ingin menjelajah kekayaan rasa Nusantara dari dapur Jawa.
Nama Saji Marem sendiri bukan sekadar label. Filosofinya merujuk pada “penyajian yang memuaskan dan enak”, sebuah janji bahwa setiap hidangan yang dihidangkan memiliki rasa tulus layaknya masakan ibu di rumah.
“Konsep kami sebenarnya lebih ke mengambil konsep Jawa, Jawa Tengah, dengan sedikit nuansa rumahan, masakan rumahan,” ucap Erik Pardiana Outlet Manager Saji Marem, Sabtu (17/1/2026) malam.
Tak hanya dari menu, nuansa Jawa juga terasa dari atmosfer yang dibangun. Saji Marem ingin menghadirkan sensasi seolah tengah bersantap di Jogja—hangat, sederhana, dan membumi—meski berada di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung.
“Kami mencoba untuk menarik konsep Jawa otentik ke Bandung, sehingga Bandung terasa seperti Jogja. Target kami semua kalangan, terutama yang kangen masakan Jawa, agar mereka merasa seperti di rumah sendiri di Bandung,” ungkapnya.
Soal pilihan menu, Saji Marem terbilang serius. Saat ini, restoran ini telah menyajikan sekitar 60 hingga 70 menu, dari total pengembangan yang mencapai 100 hingga 120 item. Ragam hidangan khas Jawa disiapkan dengan bahan pilihan dan teknik memasak yang mempertahankan cita rasa autentik.
“Beberapa menu andalan yang siap memanjakan lidah pengunjung antara lain Mangut, khususnya Mangut Manyung, Botok Teri, Krecek, dan sajian ayam yang istimewa karena menggunakan jenis Ayam Kampung Jantan. Harga yang ditawarkan pun tergolong terjangkau, berkisar antara Rp 7.000 untuk menu paling rendah hingga Rp 35.000-Rp 40.000 untuk menu utama,” tuturnya.
Tak berhenti pada urusan rasa, Saji Marem juga memperkaya pengalaman bersantap dengan menghadirkan kesenian Jawa. Bekerja sama dengan Paguyuban Jawa Tengah (PJT) Cabang Bandung Raya dan dibina oleh Paguyuban Gentra Sentramas, pertunjukan seni ini digelar pada hari Sabtu, Minggu, atau di waktu-waktu tertentu. Sentuhan budaya ini membuat Saji Marem tak sekadar menjadi tempat makan, tetapi juga ruang perjumpaan budaya.
Respon Hangat Pelanggan hingga Rencana Ekspansi
Konsep yang diusung Saji Marem rupanya mendapat sambutan positif dari pengunjung. Tak hanya kalangan dewasa, generasi muda pun ikut jatuh hati. Cynthia (17), salah satu pengunjung asal Bandung, mengaku terkesan sejak kunjungan pertamanya.
“First impression aku kayak Wow banget. Karena sebelumnya kan biasanya kita ke makan-makan Sunda. Favorit aku di sini Ayam Goreng sama sambelnya. Sambalnya itu beneran pedas banget,” kata Cynthia.
Saat ini, Saji Marem beroperasi mulai pukul 11.00 hingga 22.00 WIB. Tingginya animo masyarakat bahkan membuat daftar tunggu mulai mengular di jam-jam tertentu. Melihat respons tersebut, manajemen pun tengah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan.
Mulai dari penambahan kapasitas tempat duduk—yang saat ini berjumlah sekitar 150 kursi dan ditargetkan menjadi 170 kursi—hingga perluasan jam operasional. Bahkan, wacana membuka layanan sarapan pagi juga tengah dipertimbangkan.
“Kami juga punya rencana untuk buka sarapan pagi, nanti ke depannya akan mengakomodir permintaan masyarakat,” jelas Erik.
Tak ketinggalan, menyambut momen spesial seperti Bulan Puasa dan Lebaran, Saji Marem juga tengah menyiapkan menu serta packaging khusus. Dengan kombinasi rasa otentik, harga ramah, dan konsep yang kuat, Saji Marem optimistis mampu bersaing di Bandung—kota yang dikenal sebagai salah satu barometer kuliner nasional.
Di tengah ramainya tren kuliner modern, kehadiran Saji Marem menjadi pengingat bahwa masakan rumahan dengan rasa jujur dan penuh cerita tetap punya tempat istimewa di hati para penikmatnya. (*)
