BDGVIBES– Menjelang Ramadan dan Lebaran, Bandung kembali menghadirkan destinasi baru bagi para pencinta fashion. Kota yang kerap dijuluki Paris Van Java ini kini memiliki butik luxury modest fashion terbaru, The Edit, yang resmi dibuka di Trans Studio Mall Bandung.
Mengusung konsep one stop shopping, The Edit menghadirkan kurasi 22 brand desainer ternama Indonesia dalam satu ruang butik eksklusif. Konsep ini membuat para fashionista muslim bisa menemukan berbagai pilihan busana—mulai dari modest wear, formal look, hingga busana pesta—tanpa harus berpindah dari satu toko ke toko lainnya.
Butik ini dirancang untuk memberikan pengalaman belanja yang lebih personal dan nyaman. Tidak sekadar menampilkan koleksi premium, The Edit juga menyatukan berbagai karakter desain dari para desainer Tanah Air yang dikenal memiliki ciri khas kuat.
Di etalase butik, pengunjung dapat menemukan karya dari sejumlah label ternama seperti Malik Moestaram, Mulle, Meva, Lui, Selly Wira, Pitaukur, Soesan, Rahma Ika, hingga Naema Hijab. Setiap label hadir dengan karakter desain yang berbeda, mulai dari detail bordir elegan hingga siluet modest yang sophisticated.
Owner The Edit, Mumtazah Bavadal, mengungkapkan bahwa hadirnya butik ini berangkat dari perjalanan panjangnya di industri fashion muslim. Perempuan yang akrab disapa Bella itu memulai langkahnya sebagai penyelenggara pameran fashion muslim di atrium TSM sejak lebih dari satu dekade lalu.
“Awalnya saya hanya sebagai EO yang membuat pameran fashion muslim di atrium TSM ini sejak 2008. Dan setiap penyelenggaraan, penjualan dari berbagai brand ini selalu baik. Berawal dari sana kami akhirnya menghadirkan The Edit dengan dukungan 22 brand,” ujar Bella.
Menurutnya, kekuatan utama The Edit terletak pada proses kurasi yang matang. Ia menilai bahwa meskipun tren fashion terus berubah, karakter brand tetap menjadi faktor yang membuat sebuah label dicintai pelanggan.
“Misalnya soal tren warna dan model, kalau sedang tren pastel, hampir semua brand pasti punya. Tapi ada juga yang tetap bertahan dengan ciri khasnya masing-masing. Jadi tidak semua ikut-ikutan. Misalnya untuk penggemar Malik Moestaram, mereka pasti suka dengan detail mutenya yang mewah,” jelasnya.
Hal lain yang menjadi perhatian utama adalah pengalaman berbelanja. Latar belakang pengelola yang dekat dengan dunia pameran, interior, dan event lifestyle tercermin dari tata ruang butik yang dibuat hangat dan tertata rapi. Pengunjung bisa menikmati koleksi dengan lebih santai—mulai dari melihat detail busana, mencoba outfit, hingga menentukan pilihan tanpa terburu-buru.
Owner The Edit lainnya, Alex Saleh Aldjaidi, menambahkan bahwa setiap brand yang masuk ke dalam butik ini melalui proses seleksi yang cukup ketat.
“Bagi pencinta fashion muslim di Bandung, The Edit menjadi solusi praktis untuk menemukan busana Ramadhan hingga Lebaran dalam satu tempat. Tidak perlu berpindah dari satu toko ke toko lain, karena ragam gaya sudah dikurasi dalam satu ruang yang nyaman dan relevan dengan gaya hidup urban,” ucapnya.
Ramadan dan Lebaran 2026 menjadi momentum bagi The Edit untuk memperkenalkan konsep modest fashion yang lebih personal. Bukan sekadar mengikuti tren, tetapi memberikan ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan gaya mereka sendiri.
Koleksi yang tersedia menyasar perempuan usia 20 tahun ke atas, dengan pilihan yang cukup lengkap—mulai dari daily wear, modest outfit, hingga busana pesta. Selain itu, tersedia pula berbagai pilihan mukena yang cocok digunakan untuk salat tarawih hingga salat Idulfitri.
“Untuk busana, The Edit menyediakan harga yang beragam mulai dari Rp300 ribu hingga Rp6 juta per item,” kata Bella.
Dengan kurasi desainer yang kuat dan konsep belanja yang nyaman, The Edit berpotensi menjadi destinasi baru modest fashion di Bandung—tempat di mana gaya, karakter, dan momen spesial Lebaran bisa bertemu dalam satu ruang elegan. (*)
